Tata Cara Penetasan Telur

Masih banyak orang yang belum mengetahui tata cara penetasan telur yang baik, bahkan banyak pembeli penetas Aviamax adalah orang yang baru mencoba menetaskan telur dan sering menanyakan cara penetasan telur yang benar.  Hal ini seringkali membuat saya kuatir, akibat pengetahuan mengenai penetasan telur yang kurang, pengguna penetas Aviamax akan komplain kepada saya karena tidak menghasilkan daya tetas yang tinggi, bahkan tidak menetas sama sekali. Padahal, bagus tidaknya daya tetas bergantung pada pada banyak hal, tidak hanya pada mesin tetasnya saja, silakan baca halaman ‘Mengapa telur tidak menetas’

Berikut adalah Tata Cara Penetasan Telur menggunakan penetas Aviamax. Tata cara ini juga berlaku untuk penetas otomatis lainnya, namun tidak berlaku untuk penetas tipe manual / semi otomatis, karena proses penetasan yang sedikit berbeda. Tata cara penetasan mungkin berbeda dengan teori-teori yang sudah ada, namun demikian tata cara berikut ini sudah dipraktekkan dengan hasil yang memuaskan.

I. Persiapan

1. Menguasai Ilmu penetasan

Jika Anda adalah orang yang baru akan menetaskan telur untuk pertama kali, atau bahkan baru ‘memegang’ ayam / unggas lain, silakan untuk menimba ilmu dahulu apa saja mengenai dunia perunggasan dan teknik penetasan di berbagai media seperti Internet, buku-buku dan belajar langsung pada ahlinya. Mungkin tata cara penetasan yang ada pada media tersebut masih tergolong konvensional, namun demikian tentu masih banyak materi yang tetap ‘up to date’, seperti prinsip-prinsip dasar penetasan.

2. Persiapan mesin tetas

Jika penetas masih dalam keadaan baru, silakan pelajari dahulu fungsi-fungsi dari peralatan dan lakukan test dengan seksama. Cek apakah semua peralatan telah bekerja dengan baik dan lancar dengan cara mengoperasikan tombol-tombol kontrol. Pastikan Anda telah menguasai dan hafal diluar kepala mengenai nama dan letak peralatan, cara mengoperasikan dan lain-lain. Lakukan tes jalan dengan mengoperasikan mesin tetas dengan bak telah terisi air selama sehari semalam, dengan selalu memonitor apakah semua fungsinya telah berjalan normal, seperti akurasi termostat, pemutaran telur otomatis, dan lain-lain. Letakkan mesin tetas di tempat yang ideal, yaitu ditempat yang tidak terkena angin, hujan atau sinar matahari langsung seperti di teras rumah. Jangan meletakkan di tempat yang tertutup, pengap atau kurang ventilasi udara seperti di gudang. Juga jangan meletakkan di tempat yang kotor dan lembab seperti dekat dapur atau kamar mandi. Tempat yang ideal adalah yang kering (diatas lantai), berventilasi baik (dalam ruangan dengan jendela). Usahakan tidak menempel pada dinding (beri jarak +/- 5-10 cm dari dinding) agar kipas dalam mesin tetas bisa menghisap udara segar dari bagian belakang.

3. Persiapan telur tetas

Pastikan telur tetas benar-benar berkualitas baik, yaitu berasal dari indukan yang juga berkualitas baik dan dipelihara secara baik pula. Lebih dianjurkan melakukan pemeliharaan sendiri agar lebih mudah memantau dan memastikan indukan berada dalam kondisi yang sehat dan bisa menjaga kualitas telur tetas. Telur tetas juga harus berbentuk oval sempurna, tidak terlalu lonjong atau terlalu bulat, juga berukuran medium (tidak terlalu kecil atau terlalu besar). Telur dalam kondisi bersih, jika ada kotoran harus dibersihkan dengan sikat atau dilap, namun jika terlalu kotor hingga meninggalkan bercak pada kulit, sebaiknya tidak ditetaskan. Kondisi kulit telur mulus mengkilat secara merata, tidak ada bagian yang kasar atau berlubang atau bahkan retak. Untuk memastikan, cek telur tetas menggunakan teropong telur yang tersedia, sehingga bisa melihat retakan halus atau bagian dalam telur.

Telur tetas bisa disimpan dahulu sebelum ditetaskan dalam kurun waktu maksimal 7 hari sejak pertama kali dikeluarkan indukan. Simpan telur tetas pada tray telur plastik (tray telur kertas mungkin kotor dan banyak bakterinya) pada tempat yang tidak panas dan agak lembab. Suhu maksimal penyimpanan hendaknya tidak melebihi 32 derajat celcius, usahakan maksimal 30 derajat celcius. Jika suhu udara tinggi, misalnya pada kota-kota di dekat pantai, letakkan telur pada tempat yang cukup dingin, misalkan di atas bak air, diberi hembusan dari kipas angin, letakkan dalam ruangan ber ‘AC’, atau letakkan dalam lemari es (dengan suhu 20 – 30 derajat celcius).

II. Proses Penetasan

1. Beri tanda pada kulit telur dengan pensil seperti tanggal dan tanda lainnya, untuk memudahkan pencatatan.

2. Susun telur pada rak telur hatcher / penetasan, usahakan peletakan dengan posisi ujung tumpul di atas / ujung runcing di bawah. Lalu masukkan rak telur hatcher pada bagian bawah. Tutup pintu dan biarkan selama 3 hari.

3. Setelah 3 hari, keluarkan telur dan lakukan pengecekan dengan teropong telur. Telur yang berisi embrio hidup mempunyai titik besar yang bergerak-gerak dengan akar di sekitarnya. Untuk telur yang tebal atau bercorak, mungkin agak sulit terlihat embrionya, untuk itu proses ini bisa diulang pada hari ke-5. Telur yang terlihat terang merata berarti tidak berisi embrio hidup dan sebaiknya dikeluarkan (masih bisa dikonsumsi). Jangan membiarkan telur yang tidak berisi embrio berada dalam mesin tetas, karena mungkin bisa busuk dan mengeluarkan gas yang bisa meracuni telur lainnya.

4. Setelah telur diperiksa, pindah telur ke rak setter, dengan sebelumnya mematikan tombol otomatis, lalu tekan tombol manual untuk memposisikan dudukan rak telur pada posisi rata. Masukkan rak telur dalam dudukannya, pastikan rak telur telah ‘terkunci’ atau sudah duduk dengan sempurna. Cek dengan mengerakkan rak telur ke depan dan belakang.  Jika jumlah telur yang ditetaskan sedikit, letakkan pada jalur tengah dulu, baru ke jalur selanjutnya di depan dan belakangnya secara seimbang. Awas! Bisa terjadi kerusakan motor akibat beban yang berat sebelah (tidak diletakkan secara seimbang). Tutup pintu dan aktifkan tombol Otomatis, hingga rak telur bergerak miring ke salah satu posisi (bisa posisi depan atau belakang).

5. Di waktu pertengahan (10 – 12 hari), telur bisa dicek lagi kondisi embrionya dengan teropong telur, dengan mengulang langkah nomor 4. Pada waktu tersebut, telur akan terlihat lebih gelap yang menandakan embrio yang hidup berukuran lebih besar dengan akar memenuhi seluruh bagian dan tetap ada gerakan. Jika tidak ada gerakan atau telur terlihat ‘berkabut’, kemungkinan embrio mati dan harus dikeluarkan agar tidak busuk di dalam.

6. Pada hari ke 18 (telur ayam) lakukan pemeriksaan telur terakhir dengan teropong telur. Pada waktu tersebut, telur akan terlihat gelap total kecuali bagian tumpul yang berwarna terang (kantong udara). Embrio yang hidup ditandai dengan gerakan (ujung paruh) di dekat kantong udara. Mungkin gerakan paruh tidak terlihat jelas, namun masih bisa dideteksi. Embrio yang mati ditandai dengan terlihatnya terang (berkabut) pada bagian telur yang lancip dan tidak ada gerakan.

7. Setelah pemeriksaan, pindah kembali telur pada rak hatcher, dengan sebelumnya mengisi air dalam bak (dibawah rak hatcher) untuk menambah kelembaban agar kulit telur mudah pecah dan embrio bis keluar dengan selamat.

8. Biarkan anakan selama beberapa jam hingga bulunya agak kering, lalu pindahkan ke tempat lain. Beberapa jenis unggas seperti burung puyuh mungkin cepat aktif setelah menetas, untuk itu bisa dikeluarkan lebih cepat.

Catatan:

– Untuk jenis telur lainnya mungkin berbeda periode penetasannya, silakan mencari informasi periode / waktu penetasan. Beberapa jenis ayam kecil seperti serama bisa menetas pada 18 – 19 hari, untuk itu sesuaikan waktu pemutaran. Prinsipnya adalah 3 hari pada saat awal dan 3 hari sebelum menetas, telur tidak diputar. Pengalaman beberapa peternak, 3 hari pertama telur bisa langsung diputar dan tetap menghasilkan daya tetas yang baik, namun jika mau mencoba untuk menghemat waktu, hendaknya dilakukan percobaan dahulu.

6 comments on “Tata Cara Penetasan Telur

  1. Mas, bagaimana jika kita aturan nya terbalik-terbalik dari yang diatas ? Apakah bisa berhasil ?

    #Mungkin tetap berhasil, hanya prosentase penetasan relatif rendah.

  2. mas mau nanya, kalau seandainya kita salah memposisiskan telur dengan ujung tumpul diatas itu kenapa ?
    mohon penjelasannya

    # Ujung tumpul pada telur terdapat kantong udara untuk pernafasan embrio, jika posisinya terbalik di bawah, maka kantong udara akan tertekan / mengecil volumenya sehingga bisa membuat embrio mati.

  3. Bos Bagaimana kalau sampe 20 hari telur disimpan setelah itu baru di masukin kemesin penetas.apa masih bisa

    # Sebaiknya telur yang akan ditetaskan tidak berusia lebih dari 7 hari, karena bisa menurunkan daya tetas bahkan mungkin tidak menetas. Penyimpanan juga harus diperhatikan agar tidak diletakkan pada area yang bersuhu lebih dari 32 derajat. Jika suhu agak tinggi, terutama pada musim kemarau, letakkan telur di atas bak berisi air atau dalam kulkas bersuhu 25 – 30 derajat celcius (dibagian kontainer sayur / bawah).

  4. Ping-balik: Tata Cara Penetasan Telur | PENETAS TELUR FULL OTOMATIS

Silakan memberi komentar, saran atau pemesanan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s