Mengapa Telur Tidak Menetas?

Mesin Penetas Telur yang mampu menghasilkan daya tetas tinggi tentunya merupakan dambaan bagi para peternak unggas. Hal ini juga yang menjadi tantangan tersendiri bagi produsen penetas telur, termasuk kami. Segala daya dan upaya tentunya sudah dilakukan semaksimal mungkin untuk mendesain penetas telur terbaik. Namun demikian, perlu adanya sedikit EDUKASI bagi para pengguna / pembeli mesin penetas telur untuk tidak terlalu menuntut daya tetas semaksimal mungkin, karena ‘Alat Penetas Telur’ paling sempurna hanyalah ciptaan Allah SWT semata, yaitu Indukan ayam / unggas. Banyak calon pembeli mesin penetas telur yang menanyakan jaminan pasti menetas??. Celakanya ada produsen mesin penetas telur yang dengan ‘gagah berani’ mengklaim pasti menetas sekian persen. Padahal dari masukan dan informasi dari berbagai pihak ternyata cukup banyak komplain kepada produsen tersebut.

Karena unggas adalah mahluk hidup yang otomatis juga ada ‘Campur Tangan Tuhan’ dalam proses kehidupannya, tentunya patut dipertanyakan jika ada klaim / jaminan pasti menetas. Ibarat tidak akan pernah ada dokter kandungan yang mengklaim bayi ‘pasti’ lahir dengan selamat dan sempurna. Jauh lebih REALISTIS jika diinformasikan bahwa keberhasilan dalam proses penetasan tidak hanya tergantung dari mesin penetas saja, tetapi ada faktor lainnya. Kalaupun perlu untuk dituliskan daya tetas dalam spesifikasi mesin penetas, bisa di berikan data berupa daya tetas rata-rata. Sebagai informasi, daya tetas mesin penetas telur yang disyaratkan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) minimal adalah 70%.

Jika diurutkan mulai dari faktor yang paling penting, maka faktor-faktor yang bisa menghasilkan daya tetas tinggi  tergantung dari:

1. Telur tetas yang berkualitas.

Berkualitas dalam arti berasal dari produsen telur tetas yang terpercaya atau dari peternakan yang telah menjalankan sistem pemeliharaan dan seleksi indukan yang baik. Seringkali terjadi, telurnya sudah berkualitas dari peternakan yang terpercaya tetapi mengalami proses transportasi yang bisa menyebabkan kerusakan akibat getaran atau panas saat di jalan.  Lebih disarankan melakukan pemeliharaan indukan sendiri karena bisa melakukan kontrol kualitas yang lebih baik. Lakukan seleksi telur secara visual atau menggunakan teropong telur, baik untuk telur segar maupun telur yang sudah dimasukkan mesin penetas.

2. Operator yang baik.

Baik dalam arti tidak harus berpengalaman bertahun tahun dalam menangani penetasan telur. Paling penting adalah telaten dan mempunyai kemauan dalam belajar, sehingga peternak pemula pun bisa menetaskan dengan baik asalkan mau belajar menetaskan telur dari berbagai media / buku, dan tidak mudah frustasi jika belum bisa menghasilkan daya tetas tinggi. Secanggih apapun mesin penetas telur, tetap memerlukan MONITORING yang telaten. Dengan demikian penggunaan mesin penetas full otomatis tidak berarti menghilangkan sama sekali peran operator, melainkan hanya membantu meringankan pekerjaan dan mengatasi kelemahan utama manusia, yaitu ‘Pelupa’, misalnya dalam pekerjaan pemutaran telur.

3. Mesin penetas telur yang bekerja dengan baik dan lancar.

Pada prinsipnya semua mesin penetas telur telah melalui tahap penelitian dan percobaan yang memakan waktu cukup lama. Mesin penetas yang bekerja dengan lancar mempunyai arti telah memenuhi kaidah penetasan yang ideal, yaitu menyediakan PANAS dan KELEMBABAN yang cukup. Jadi jika ingin mendapatkan mesin penetas telur yang bagus, silakan cek fitur-fitur yang berkaitan dengan panas dan kelembaban. Misalnya alat pengatur panas (thermostat) yang akurat dan teliti, dimana fluktuasi suhu (suhu paling rendah dan paling tinggi yang terbaca pada thermometer) maksimal 1 derajat celcius (baca: satu derajat celcius). Mudahnya coba periksa atau tanyakan kepada penjual apakah THERMOSTAT yang digunakan mempunyai spesifikasi: 1. Fluktuasi suhu maksimal 1 derajat celcius (terbaik 0,3 – 0,5 derajat celcius). 2. Ketelitian / resolusi display pada thermostat digital 0,1 derajat celcius. Ketelitian yang baik maksimal 0,5 derajat celcius. Jadi jika ada thermostat mempunyai ketelitian hanya 1 derajat celcius (baik dalam menampilkan suhu seting maupun suhu aktua), maka perlu dipertanyakan kualitasnya. Pemahaman secara mudah, thermostat harus bisa diseting suhunya dengan kelipatan 0,1 – 0,5, misalnya dari 37 ke 38 derajat celcius bisa diseting 37,1 .. 37,2  .. 37,3 .. 38, atau 37 .. 37,5 .. 38.
Kelembaban pada umumnya telah disediakan oleh produsen berupa nampan berisi air yang tidak boleh kering sama sekali. Untuk penetas telur berkapasitas kecil, asalkan air selalu dimonitor agar tidak kering, maka faktor kelembaban hampir pasti telah terpenuhi. Khusus untuk penetas bertingkat (2 atau lebih rak telur), sebaiknya  disediakan 2 tingkat kelembaban, yaitu kelembaban normal 55 – 60% RH pada fase pemutaran telur / pengeraman  dan 60 – 75% RH pada fase penetasan. Pada penetas Aviamax sudah disediakan dua nampan air di bagian atas dan bawah untuk menyediakan dua kelembaban berbeda.

4. Setingan Suhu yang Ideal

Kesalahan dalam setingan suhu bisa berakibat pada rendahnya daya tetas atau bahkan tidak menetas sama sekali. Perlu dilakukan observasi atau percobaan untuk menemukan suhu atau kelembaban terbaik. Jangan terpancang pada suhu tertentu dan bisa dilakukan perubahan setingan suhu jika pada penetasan pertama dirasa kurang memuaskan. Prinsip penetasan yang benar adalah: telur menetas dengan WAKTU YANG TEPAT, untuk telur ayam secara umum mempunyai periode 20 – 21 hari. Jika telur menetas lebih cepat, maka suhunya terlalu tinggi, dan jika telur menetas lebih lambat maka suhunya terlalu rendah. Setingan ulang bisa dilakukan dengan rentang +/- 0,5 derajat. Seringkali peternak menggunakan suhu yang cukup tinggi dengan harapan telur menetas lebih cepat, padahal meskipun bisa menetas dengan baik, umumnya anakan yang menetas terlalu cepat berkualitas rendah. Ibarat seperti bayi manusia yang lahir prematur, tentunya mempunyai kondisi kesehatan yang lebih buruk daripada bayi yang lahir pada waktu yang ideal. Sebagai contoh, ada pengguna mesin penetas Aviamax yang melaporkan daya tetas rendah, setelah kami anjurkan untuk menaikkan 0,5 derajat celcius, ternyata daya tetasnya bisa meningkat secara segnifikan. Sekali lagi TIDAK ADA patokan suhu yang baku dalam penetasan telur, cobalah untuk melakukan pengaturan ulang jika daya tetas kurang memuaskan.

5. Kondisi cuaca / iklim setempat

Banyak peternak mengabaikan atau bahkan tidak terpikir untuk mempertimbangkan faktur cuaca / iklim saat menetaskan telur. Umumnya kondisi cuaca / iklim berpengaruh besar kepada kelembaban, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi. Saat musim penghujan atau musim kemarau tentunya memberikan kelembaban yang berbeda. Di beberapa tempat, pada musim penghujan seringkali kelembaban dalam penetas telur mencapai 60% meskipun tidak disediakan air. Disarankan untuk menyediakan alat pemantau kelembaban / hygrometer untuk mencatat kelembaban luar dan dalam mesin penetas. Kontrol kelembaban secara sederhana bisa dilakukan dengan menambah atau mengurangi jumlah air pelembab, atau menempatkan mesin penetas pada area yang ideal, yaitu tidak terpapar sinar matahari langsung, terkena angin secara langsung (pada area teras rumah), atau tidak diletakkan dalam area tertutup seperti gudang.

11 comments on “Mengapa Telur Tidak Menetas?

  1. Pak kalo alat tetasnya cuman dikit yg menetas itu kenapa pak padahal ditaruh bersamaan dan di sinari ada embrionya itu kenapa pak

Silakan memberi komentar, saran atau pemesanan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s