Teknik Pengaturan Suhu yang tepat

Suhu yang tepat adalah merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan daya tetas setinggi mungkin.  Pengaturan suhu pada mesin tetas berlangsung secara otomatis menggunakan alat yang disebut thermostat. Pada umumnya mesin tetas menggunakan thermostat elektro-mekanikal dengan sensor pemanas (kapsul) tipe wafer. Sensor ini berupa dua keping pelat berongga berbahan kuningan dan diisi dengan eter, yang akan mengembang jika panas bertambah dan mengerut jika panas berkurang, dan menghasilkan gerakan yang mengaktifkan saklar mikro (microswitch). Kemudian microswitch inilah yang akan mematikan dan menghidupkan pemanas (lampu atau nikelin). Dengan demikian panas dalam mesin tetas akan naik dan turun dalam kisaran tertentu, namun tidak boleh melebihi 1o C. Misalnya jika suhu terendah (saat pemanas mati) adalah 38oC maka suhu tertinggi (saat pemanas hidup) maksimum 39oC.

Pengaturan suhu mesin tetas sebenarnya cukup mudah, namun pada prakteknya seringkali terkesan sulit karena umumnya orang tidak tahu (atau tidak mau tahu?) cara kerjanya. Karena itu, untuk pengguna baru sangat disarankan untuk memahami cara kerjanya dan melakukan percobaan2 terlebih dahulu.

Pengaturan suhu juga sangat bergantung pada ketepatan kita membaca termometer. Untuk itu letakkan termometer di tengah2 telur untuk pembacaan paling akurat. Prinsip utama pembacaan suhu adalah memonitor suhu pada termometer pada saat lampu pemanas mati atau hidup. Inilah keuntungan mesin tetas yang menggunakan pemanas lampu pijar seperti pada Minorca karena sangat mudah mengetahui batas suhu terendah dan suhu tertinggi. Seperti diketahui suhu akan turun jika pemanas mati dan akan naik jika pemanas hidup. Namun demikian, pembacaan suhu hanya dapat dilakukan saat lampu pemanas hidup karena pandangan ke dalam mesin tetas akan lebih terang.

Sebelumnya, masukkan bak yang telah diisi air dan hidupkan mesin tetas dan biarkan selama 1-2 jam. Kemudian, untuk membaca suhu tertinggi, pandanglah skala pada termometer terus menerus hingga lampu padam, sesaat setelah lampu padam itulah yang menunjukkan suhu tertinggi. Sedangkan untuk membaca suhu terendah, tunggu hingga lampu hidup lagi. Sesaat setelah lampu hidup, baca skala pada termometer, maka itulah suhu terendah.

Jika suhu terendah menunjukkan angka lebih kurang 38oC dan suhu tertinggi adalah 38,5 – 39oC, maka pengaturan suhu telah tepat. Namun jika suhu terendah kurang dari 38oC dan suhu tertinggi lebih dari 39oC, maka lakukan pengaturan kembali dengan memutar baut pengatur 1/4 – 1/2 putaran. Namun demikian, mengingat pembacaan suhu yang tidak mungkin akurat 100%, maka penyimpangan +/- 0,5oC masih dapat ditoleransi.

35 comments on “Teknik Pengaturan Suhu yang tepat

  1. Kalau suhu penetasan 38-39 c gmn pas apa gak kalau penetasan telor ayam

    # Pas tidaknya suhu, hasilnya baru bisa diketahui setelah 1 periode penetasan selesai. Pada prinsipnya, suhu ideal pasti menghasilkan daya tetas tertinggi dengan kualitas anakan yang bagus. Selama ini banyak kerancuan akibat penggunaan thermostat wafel dengan hysteresis (selisih suhu min dan max) yang besar hingga 2-3 derajat, sehingga rangenya besar, misal 37-40 derajat celcius. Dari pengalaman, untuk telur ayam / bebek, suhu 38-38,5 yang paling bagus daya tetasnya.

  2. numpang tanya pak. suhu maksimal dan minimal untk menetaskan telur ayam brapa drajat?

    # Yang pernah saya amati, peternak yang menggunakan thermostat wafel biasanya menggunakan suhu 38 – 40 derajat celcius.

  3. Mau tanya mas
    kalo untuk kenari suhu kisaran nya berapa yahh ??
    slnya saya coba bikin sendiri inkubator buatan
    namun tidak menetas telor’a padahal sudah lebih dari 14 hari
    trims

    # Menetaskan telur tentunya bukan hanya sekedar menentukan suhu, tetapi banyak aspek lain, misalnya kerataan suhu dalam penetas, fluktuasi suhu yang dihasilkan thermostat, kelembaban, kualitas telur tetas, dll. Untuk telur burung biasanya digunakan suhu 37 derajat celcius, dengan fluktuasi suhu (selisih suhu saat lampu pemanas mati dan hidup) max 1 derajat celcius.

  4. bgaimna mas jika dalam penetasan suhu ny terlalu besar
    apa kah penetasan itu akan berhasil………makasih

    # Penetasan bisa berlangsung hingga suhu 40 derajat celcius, tetapi kalau menetas biasanya berkualitas buruk, biasanya berukuran lebih kecil dan lemah.

  5. saya kesulitan untuk mengukur lembah ruang inkubator, karena alat penetas masih 1% telurnya harus dibantu menetas.
    http://itikbanyuwangi.blogspot.com/

    # Penetasan telur itik memang mempunyai kesulitan lebih tinggi dari telur ayam, karena membutuhkan kelembaban lebih tinggi saat fase menetas. Coba gunakan hygrometer untuk mengukur kelembaban dan termometer yang berkualitas bagus (mahal sedikit tidak masalah, lebih baik tidak menggunakan termometer kayu / ruangan). Untuk penetas manual gunakan 2 unit penetas, yang satu untuk fase mengeram 1-25 hari, yang lain untuk fase menetas (25-28 hari). Penetas untuk fase mengeram cukup gunakan bak pelembab berukuran sedang untuk menghasilkan kelembaban 50 – 55% dan penetas untuk fase menetas gunakan bak pelembab berukuran besar (sebesar mungkin yang bisa masuk penetas, atau gunakan beberapa bak), untuk meningkatkan kelembaban 5-10 % lebih besar daripada fase mengeram. Sesekali bisa di ‘sprayer’, jika kelembaban dirasa masih kurang, untuk telur yang sudah mulai retak. Gunakan suhu ‘normal’ 38 +/- 0,5 derajat celcius, karena dari pengamatan sering peternak menggunakan suhu agak rendah untuk menghemat listrik.

Silakan memberi komentar, saran atau pemesanan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s